Sulawesi
Home / Sulawesi / Kete Kesu, Desa Adat Toraja yang Memikat di Lereng Sulawesi Selatan

Kete Kesu, Desa Adat Toraja yang Memikat di Lereng Sulawesi Selatan

Kete Kesu

Desa Kete Kesu adalah salah satu wajah paling kuat dari wisata budaya Toraja. Berada di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, desa adat ini menghadirkan deretan rumah Tongkonan, lumbung padi, ukiran kayu, area persawahan, bukit pemakaman kuno, serta kehidupan masyarakat yang masih menjaga adat leluhur. Bagi wisatawan yang ingin mengenal Toraja lebih dekat, Kete Kesu bukan sekadar tempat singgah untuk berfoto, tetapi ruang budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara rumah adat, keluarga, tanah, upacara, dan alam pegunungan.

Kete Kesu dan Wajah Toraja yang Tetap Hidup

Kete Kesu dikenal sebagai salah satu desa adat paling terkenal di Toraja karena kawasan ini menyimpan susunan permukiman tradisional yang masih terjaga. Kawasan ini memiliki unsur permukiman yang lengkap, mulai dari rumah adat, lumbung, tempat pemakaman, tanah upacara, sawah, hingga padang kerbau.

Begitu memasuki kawasan desa, wisatawan akan melihat barisan Tongkonan yang berdiri berhadapan dengan alang atau lumbung padi. Bentuk atapnya yang melengkung tinggi menjadi ciri khas arsitektur Toraja. Di bagian depan rumah, ukiran kayu berwarna merah, hitam, kuning, dan putih terlihat menghiasi dinding. Setiap detail pada rumah adat ini tidak dibuat asal indah, melainkan berkaitan dengan status keluarga, adat, dan hubungan masyarakat Toraja dengan leluhur.

Suasana desa terasa rapi dan tenang. Jalan batu di bagian tengah menjadi jalur utama wisatawan untuk berjalan kaki, melihat rumah adat dari dekat, memotret sudut arsitektur, serta menyaksikan kegiatan warga dan pedagang cendera mata. Di beberapa titik, wisatawan dapat melihat tanduk kerbau yang tersusun di depan Tongkonan. Susunan itu biasanya berkaitan dengan upacara adat dan kedudukan keluarga pemilik rumah.

“Saat berjalan pelan di antara Tongkonan Kete Kesu, suasananya terasa berbeda. Setiap rumah seperti menyimpan cerita keluarga yang panjang, sementara udara Toraja membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga.”

Tinutuan Manado, Bubur Sayur Kaya Rasa yang Wajib Dicoba

Lokasi Desa Kete Kesu dan Akses Menuju Kawasan Wisata

Sebelum mengatur perjalanan ke Kete Kesu, wisatawan perlu memahami posisi desa ini agar waktu kunjungan bisa disusun dengan nyaman. Lokasinya berada di wilayah Toraja Utara, tidak jauh dari Rantepao, kota yang sering menjadi titik menginap dan titik berangkat wisatawan saat menjelajah Toraja.

Akses ke Kete Kesu tidak sulit karena jaraknya dekat dari pusat Kota Rantepao dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan sewaan. Biaya masuk kawasan biasanya relatif terjangkau, meski tarif dapat berubah sesuai kebijakan pengelola.

Wisatawan yang berangkat dari Makassar biasanya menempuh perjalanan darat menuju Toraja selama beberapa jam menggunakan bus malam, mobil travel, atau kendaraan sewaan. Setelah tiba di Rantepao, perjalanan ke Kete Kesu bisa dilanjutkan dengan mobil, motor, ojek, atau kendaraan tur lokal. Jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat desa ini cocok dimasukkan dalam itinerary setengah hari bersama destinasi lain seperti Londa, Bori Kalimbuang, atau kawasan persawahan di sekitar Toraja Utara.

Rute dari Rantepao yang Mudah Diikuti

Dari Rantepao, perjalanan menuju Kete Kesu terasa cukup singkat. Wisatawan dapat mengambil arah ke kawasan Kesu atau Sanggalangi, lalu mengikuti petunjuk jalan menuju desa adat. Jalurnya melewati permukiman, area hijau, dan beberapa bagian yang memperlihatkan suasana khas Toraja.

Untuk wisatawan yang datang pertama kali, menyewa kendaraan dengan sopir lokal bisa menjadi pilihan nyaman. Sopir lokal biasanya memahami jalur, titik parkir, waktu terbaik berkunjung, serta aturan sederhana saat memasuki kawasan adat. Bila menggunakan motor, pastikan kondisi kendaraan baik karena cuaca Toraja bisa berubah, terutama saat musim hujan.

Apparalang Bulukumba, Tebing Laut Jernih untuk Cliff View Memukau

Tongkonan, Rumah Adat yang Menjadi Pusat Perhatian

Daya tarik utama Kete Kesu adalah deretan Tongkonan yang berjajar anggun di tengah kawasan desa. Rumah adat ini bukan hanya bangunan tempat tinggal, tetapi juga penanda keluarga, asal usul, dan kedudukan sosial dalam masyarakat Toraja.

Tongkonan dibangun dengan bentuk atap melengkung tinggi. Bagian kolong rumah dibuat terbuka karena struktur bangunannya berdiri di atas tiang. Pada masa lalu, bentuk seperti ini membantu menyesuaikan rumah dengan kondisi alam dan kebutuhan masyarakat. Bagian depan rumah biasanya dihiasi ukiran serta tanduk kerbau yang menunjukkan riwayat upacara adat keluarga.

Di Kete Kesu, Tongkonan tidak berdiri sendiri. Di depannya terdapat alang atau lumbung padi yang juga memiliki bentuk atap khas Toraja. Susunan rumah dan lumbung yang saling berhadapan membuat desa ini terlihat sangat teratur. Wisatawan bisa berjalan di bagian tengah sambil memperhatikan perbedaan detail ukiran, usia kayu, dan bentuk bangunan.

Ukiran Kayu dan Warna yang Sarat Identitas

Salah satu bagian yang paling menarik dari Tongkonan adalah ukirannya. Motif yang terlihat di dinding rumah biasanya berupa pola geometris, bentuk hewan, dan ragam hias khas Toraja. Warna yang digunakan pun kuat, terutama hitam, merah, kuning, dan putih.

Bagi wisatawan, ukiran ini menjadi salah satu titik foto terbaik. Namun, lebih dari sekadar latar foto, ukiran kayu di Kete Kesu menunjukkan keterampilan perajin Toraja yang diwariskan lintas generasi. Beberapa motif berkaitan dengan kehidupan, kebijaksanaan, keberanian, dan hubungan keluarga dengan adat.

Tana Toraja, Pesona Alam dan Budaya Sulawesi yang Bikin Terpikat

Bukit Buntu Kesu dan Pemakaman Kuno Toraja

Setelah menikmati deretan Tongkonan, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke area belakang desa. Di sana terdapat kawasan pemakaman kuno yang menjadi bagian penting dari kunjungan ke Kete Kesu.

Bukit Buntu Kesu dikenal sebagai situs pemakaman kuno yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Di kawasan tersebut terdapat tebing batu, gua pemakaman, peti kayu tradisional, serta sisa tulang dan tengkorak manusia yang menjadi bagian dari tradisi pemakaman Toraja.

Area ini perlu dikunjungi dengan sikap hormat. Wisatawan sebaiknya tidak menyentuh benda apa pun, tidak memindahkan susunan tulang, dan tidak mengambil foto secara berlebihan di titik yang dianggap sakral. Bagi masyarakat Toraja, pemakaman bukan hanya lokasi sejarah, tetapi juga ruang yang berkaitan dengan keluarga dan penghormatan kepada leluhur.

Memahami Adat dengan Sikap yang Sopan

Mengunjungi area pemakaman Kete Kesu membutuhkan kepekaan. Tidak semua hal harus dijadikan objek foto. Ada bagian yang lebih baik dinikmati dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan pemandu lokal.

Pemandu lokal biasanya dapat menjelaskan cara masyarakat Toraja memandang keluarga, kematian, upacara, dan tempat peristirahatan leluhur. Penjelasan seperti ini membuat kunjungan terasa lebih bermakna tanpa harus mengganggu nilai adat setempat.

Museum dan Kerajinan di Dalam Kawasan Kete Kesu

Selain Tongkonan dan pemakaman kuno, Kete Kesu juga memiliki unsur edukasi budaya. Salah satu Tongkonan di kawasan ini disebut telah difungsikan sebagai museum yang menampilkan benda benda bersejarah dan perlengkapan adat Toraja.

Kehadiran museum membuat wisatawan bisa melihat lebih jauh bagaimana Toraja terhubung dengan perjalanan perdagangan, seni, dan adat keluarga. Benda seperti keramik, patung, senjata, serta perlengkapan adat tidak hanya memperlihatkan nilai estetika, tetapi juga hubungan sosial dan sejarah masyarakat yang panjang.

Di sekitar kawasan desa, wisatawan juga dapat menemukan penjual cendera mata. Ada ukiran kayu, miniatur Tongkonan, kain, aksesori, tas, dan berbagai kerajinan khas Toraja. Membeli kerajinan lokal bisa menjadi cara sederhana untuk mendukung ekonomi warga, selama wisatawan tetap menawar dengan sopan dan menghargai proses kerja perajin.

“Cendera mata di Kete Kesu terasa punya kedekatan dengan tempatnya. Miniatur Tongkonan, ukiran kecil, dan kain khas Toraja bukan hanya barang belanja, tetapi pengingat bahwa perjalanan ini pernah melewati ruang budaya yang masih dirawat.”

5 Hal yang Membuat Kete Kesu Menarik untuk Dikunjungi

Kete Kesu punya banyak sisi yang membuatnya layak menjadi tujuan utama saat berkunjung ke Toraja. Daya tariknya tidak hanya berada pada bentuk rumah adat, tetapi juga pada susunan kawasan, adat pemakaman, kerajinan, dan alam sekitar.

NoHal MenarikPenjelasan Detail
1Deretan Tongkonan yang masih terjagaWisatawan dapat melihat rumah adat Toraja dari dekat, lengkap dengan ukiran, atap khas, dan tanduk kerbau di bagian depan rumah. Susunan bangunan membuat kawasan desa terlihat rapi dan kuat sebagai ruang budaya.
2Lumbung padi tradisionalAlang atau lumbung padi berdiri berhadapan dengan Tongkonan. Keberadaannya menunjukkan hubungan masyarakat Toraja dengan pertanian, keluarga, dan pengelolaan hasil bumi.
3Pemakaman batu kunoArea Bukit Buntu Kesu memperlihatkan tradisi pemakaman Toraja yang sudah sangat tua. Wisatawan bisa memahami cara masyarakat setempat menghormati leluhur dengan tetap menjaga etika selama berkunjung.
4Kerajinan dan museum adatKawasan ini memiliki cendera mata khas, ukiran, serta museum kecil yang memperlihatkan benda adat dan sejarah keluarga Toraja.
5Alam desa yang tenangKete Kesu berada di lingkungan yang dekat dengan sawah, bukit, dan permukiman tradisional. Suasana ini memberi pengalaman wisata yang lengkap antara budaya dan pemandangan alam.

Kuliner Khas Toraja yang Bisa Dicoba Saat Berkunjung

Setelah berkeliling Kete Kesu, wisatawan dapat melanjutkan pengalaman dengan mencicipi kuliner khas Toraja di Rantepao atau kawasan sekitar Toraja Utara. Kuliner Toraja dikenal memiliki rasa kuat, penggunaan rempah khas, serta beberapa teknik masak tradisional seperti memasak dalam bambu.

Salah satu hidangan yang sering dibicarakan adalah pantollo pamarrasan. Makanan ini dikenal dengan bumbu hitam dari kluwak yang memberi cita rasa khas dan warna gelap pada masakan. Ada pula pa’piong manuk, yaitu olahan ayam dengan bumbu Toraja yang dimasukkan ke dalam bambu dan dimasak sampai matang.

KulinerCiri RasaCocok Dicoba SaatCatatan Wisata
Pantollo pamarrasanGurih, gelap, rasa kluwak kuatMakan siangSalah satu masakan khas Toraja yang paling dikenal
Pa’piong manukHarum bambu, berbumbu, gurihMakan siang atau malamCocok untuk wisatawan yang ingin mencoba teknik masak tradisional
Pantollo baleGurih, berbumbu, berbahan ikanMakan siangPilihan menarik bagi wisatawan yang menyukai olahan ikan
DangkotPedas, berbumbu kuatMakan bersama rombonganUmumnya memakai daging bebek atau ayam
Kopi TorajaAromatik, kuat, cocok diminum hangatPagi atau sorePilihan tepat setelah berkeliling desa adat
Deppa toriManis, renyah, khas oleh oleh TorajaCamilan perjalananCocok dibawa pulang sebagai buah tangan

Rekomendasi Tempat Makan di Sekitar Rantepao dan Kete Kesu

Kawasan sekitar Kete Kesu dan Rantepao memiliki sejumlah tempat makan yang dapat dijadikan pilihan setelah berwisata. Karena Kete Kesu berada cukup dekat dari Rantepao, wisatawan bisa lebih leluasa memilih tempat makan sesuai selera dan kebutuhan.

Tempat MakanJenis MenuCocok UntukAlasan Direkomendasikan
Rumah makan khas Toraja di RantepaoPa’piong, pantollo, lauk rumahanWisatawan yang ingin mencicipi rasa lokalPilihan paling sesuai untuk mengenal kuliner Toraja setelah dari Kete Kesu
Kedai kopi TorajaKopi, camilan, menu ringanSinggah soreCocok untuk menikmati kopi lokal sebelum kembali ke penginapan
Warung makan sekitar KesuNasi, lauk sederhana, hidangan lokalPerjalanan hematMudah dijangkau bila wisatawan tidak ingin kembali jauh ke pusat kota
Restoran hotel di RantepaoMenu lokal dan umumKeluargaLebih nyaman untuk wisatawan yang membawa anak atau rombongan
Toko oleh oleh TorajaDeppa tori, kopi, camilan lokalBelanja pulangCocok dikunjungi setelah makan atau sebelum meninggalkan Rantepao

Rekomendasi Penginapan di Sekitar Kete Kesu

Wisatawan yang ingin menjelajah Toraja sebaiknya menginap di Rantepao atau area Toraja Utara. Dari kawasan tersebut, akses ke Kete Kesu, Londa, Bori Kalimbuang, dan beberapa destinasi lain terasa lebih mudah.

Pilihan penginapan di sekitar Kete Kesu cukup beragam, mulai dari homestay, wisma, hotel sederhana, guest house, hingga hotel dengan fasilitas lebih lengkap. Wisatawan dapat menyesuaikan pilihan dengan anggaran, jumlah rombongan, dan rute perjalanan selama di Toraja.

PenginapanAreaCocok UntukKelebihan
Mama Tia Family HomestayKesu, Toraja UtaraKeluarga dan rombongan kecilJaraknya cukup dekat dari Kete Kesu dan cocok untuk wisatawan yang mencari suasana homestay
Wisma Maestro Toraja Mitra RedDoorzRantepaoWisatawan hematPilihan sederhana dengan akses yang cukup dekat ke kawasan wisata
Hiltra Toraja HotelRantepaoWisatawan yang ingin akses kotaCocok untuk menginap dengan akses mudah ke tempat makan dan layanan perjalanan
Hotel Indra TorajaRantepaoPasangan, keluarga, perjalanan santaiBerada di area strategis Rantepao dan dekat dengan berbagai kebutuhan wisata
Bait LinoRantepaoWisatawan yang mencari suasana lebih tenangPilihan vila dengan suasana nyaman untuk liburan
Toraja Lodge Guest HouseTallunglipuBackpacker dan wisatawan mandiriMenawarkan konsep guest house dengan akses menuju beberapa destinasi sekitar
Toraja Misiliana HotelArea RantepaoKeluarga dan wisatawan yang ingin fasilitas lengkapMemiliki fasilitas hotel yang lebih lengkap dan cocok untuk liburan beberapa hari

Fakta Menarik tentang Desa Kete Kesu

Kete Kesu menyimpan banyak hal menarik yang membuat wisatawan ingin berlama lama. Kawasan ini bukan hanya dikenal karena Tongkonan, tetapi juga karena susunan budaya yang masih berjalan dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Pertama, Kete Kesu dianggap sebagai salah satu permukiman Toraja yang lengkap karena memiliki rumah adat, lumbung, tanah upacara, area pemakaman, sawah, dan padang kerbau.

Kedua, kawasan belakang desa menyimpan Bukit Buntu Kesu, pemakaman kuno yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Area ini menunjukkan bagaimana adat Toraja menjaga hubungan dengan leluhur melalui ruang pemakaman yang dibuat di tebing dan gua batu.

Ketiga, salah satu Tongkonan di Kete Kesu berfungsi sebagai museum yang memamerkan benda bersejarah, termasuk keramik, patung, senjata, dan benda adat. Hal ini membuat wisatawan bisa mendapatkan gambaran lebih luas tentang kehidupan Toraja dari sisi keluarga, seni, dan sejarah.

Keempat, Kete Kesu menjadi tempat yang baik untuk mengenal ukiran Toraja. Motif pada kayu, warna bangunan, dan bentuk rumah memperlihatkan keterampilan masyarakat lokal yang diwariskan lintas generasi.

Kelima, waktu kunjungan pada periode tertentu dapat memberikan pengalaman berbeda. Bulan Juni hingga Desember sering menjadi waktu ketika wisatawan dapat menyaksikan upacara adat secara langsung, bergantung pada jadwal keluarga dan masyarakat setempat.

“Kete Kesu mengajarkan cara menikmati wisata dengan lebih pelan. Ada bagian yang indah untuk difoto, ada bagian yang perlu dihormati, dan ada bagian yang lebih baik dipahami lewat cerita warga lokal.”

Etika Berkunjung ke Desa Adat Kete Kesu

Sebagai desa adat yang masih memiliki nilai sakral, Kete Kesu perlu dikunjungi dengan sikap hormat. Wisatawan boleh menikmati pemandangan, memotret bangunan, membeli cendera mata, dan berjalan di jalur wisata, tetapi tetap perlu memperhatikan batas yang berlaku di kawasan adat.

Gunakan pakaian yang sopan, terutama bila berkunjung ke area pemakaman atau saat ada upacara adat. Jangan menyentuh tengkorak, tulang, peti, benda pusaka, atau perlengkapan upacara. Jika ingin memotret warga, rumah, atau kegiatan adat dari jarak dekat, mintalah izin terlebih dahulu.

Bila menggunakan jasa pemandu lokal, dengarkan arahan dengan baik. Pemandu biasanya memahami bagian mana yang boleh dimasuki, bagian mana yang sebaiknya tidak disentuh, serta cara bersikap ketika ada kegiatan adat keluarga. Sikap seperti ini membuat perjalanan lebih nyaman bagi wisatawan dan tetap menghargai masyarakat setempat.

Cara Menikmati Kete Kesu Tanpa Terburu Buru

Kete Kesu tidak perlu dinikmati dengan langkah cepat. Luangkan waktu untuk berjalan dari bagian depan desa, menyusuri jalur di antara Tongkonan, melihat lumbung padi, masuk ke area museum bila tersedia, lalu melanjutkan ke kawasan belakang desa.

Wisatawan yang suka fotografi sebaiknya datang pagi atau sore. Cahaya pada dua waktu tersebut lebih nyaman untuk memotret detail rumah adat dan suasana desa. Bila datang siang, gunakan topi atau payung kecil karena beberapa bagian kawasan terbuka.

Itinerary Singkat Menjelajah Kete Kesu dalam Satu Hari

Kete Kesu dapat dikunjungi dalam perjalanan singkat dari Rantepao. Namun, agar lebih puas, wisatawan bisa menyusun perjalanan setengah hari atau satu hari dengan menggabungkan beberapa destinasi sekitar Toraja Utara.

WaktuKegiatanCatatan
07.30Berangkat dari penginapan di RantepaoPilih kendaraan pribadi, motor sewaan, atau mobil dengan sopir lokal
08.00Tiba di Kete KesuDatang pagi untuk suasana lebih tenang dan cahaya foto yang nyaman
08.15Menyusuri deretan TongkonanPerhatikan ukiran, alang, tanduk kerbau, dan susunan rumah adat
09.15Mengunjungi museum atau area kerajinanCocok untuk melihat benda adat dan membeli cendera mata
10.00Menuju area pemakaman kunoJaga sikap, ikuti jalur, dan jangan menyentuh benda apa pun
11.30Makan siang di sekitar RantepaoCoba pantollo pamarrasan, pa’piong, atau kopi Toraja
13.00Lanjut ke Londa atau Bori KalimbuangCocok untuk melengkapi perjalanan budaya Toraja
16.00Kembali ke penginapanSinggah ke kedai kopi atau toko oleh oleh sebelum istirahat

Perkiraan Biaya Wisata ke Kete Kesu

Biaya perjalanan ke Kete Kesu dapat disesuaikan dengan gaya wisata. Wisatawan yang menginap di Rantepao biasanya bisa menghemat waktu dan biaya transportasi karena jarak ke desa adat tidak terlalu jauh.

KebutuhanPerkiraan BiayaCatatan
Tiket masuk kawasanMulai sekitar Rp5.000 sampai Rp15.000Tarif dapat berubah sesuai kebijakan pengelola dan kategori wisatawan
Parkir kendaraanRp5.000 sampai Rp10.000Siapkan uang tunai kecil
Sewa motor di RantepaoRp80.000 sampai Rp150.000 per hariTergantung kondisi motor dan durasi sewa
Sewa mobil lokalRp500.000 sampai Rp900.000 per hariCocok untuk keluarga atau rombongan
Jasa pemandu lokalMenyesuaikan kesepakatanSangat disarankan untuk memahami adat dan area pemakaman
Makan khas TorajaRp35.000 sampai Rp100.000 per orangTergantung pilihan menu dan tempat makan
Cendera mataRp20.000 sampai ratusan ribuTergantung jenis kerajinan dan ukuran
Penginapan sekitar RantepaoMulai sekitar Rp200.000 per malamHarga berubah sesuai musim dan platform pemesanan

Waktu Terbaik untuk Berkunjung ke Kete Kesu

Waktu terbaik untuk mengunjungi Kete Kesu adalah pagi hari atau sore hari. Pagi hari memberi suasana lebih sepi, udara segar, dan kesempatan melihat desa sebelum ramai wisatawan. Sore hari cocok untuk wisatawan yang ingin mendapatkan cahaya lembut pada bangunan Tongkonan dan suasana desa yang lebih teduh.

Bila wisatawan ingin melihat kegiatan adat, periode Juni hingga Desember sering disebut sebagai waktu yang menarik karena beberapa upacara adat Toraja lebih sering berlangsung pada bulan bulan tersebut. Namun, kegiatan adat sangat bergantung pada keluarga dan masyarakat setempat, sehingga wisatawan sebaiknya tidak datang dengan harapan pasti menyaksikan upacara.

Musim hujan tetap bisa digunakan untuk berkunjung, tetapi siapkan payung, alas kaki nyaman, dan pelindung kamera. Beberapa jalur bisa terasa licin, terutama di area belakang desa menuju pemakaman batu. Untuk wisata keluarga, kunjungan pagi lebih disarankan karena anak anak masih segar dan kawasan belum terlalu ramai.

Kete Kesu sebagai Gerbang Mengenal Toraja Lebih Dekat

Kete Kesu adalah tempat yang cocok dijadikan titik awal untuk memahami Toraja. Dari satu kawasan, wisatawan bisa melihat rumah adat, lumbung padi, ukiran, kerajinan, museum, persawahan, pemakaman kuno, dan hubungan masyarakat dengan adat keluarga.

Setelah dari Kete Kesu, perjalanan bisa dilanjutkan ke Londa untuk melihat gua pemakaman, Bori Kalimbuang untuk mengenal batu megalit, atau Lolai untuk menikmati pemandangan pegunungan Toraja. Rantepao dapat menjadi pusat perjalanan karena pilihan penginapan, kuliner, dan transportasi lebih mudah ditemukan.

Kete Kesu bukan tempat yang cukup hanya dilihat dari satu sudut. Semakin pelan wisatawan berjalan, semakin banyak detail yang terlihat. Ada suara aktivitas warga, ukiran di dinding rumah, susunan tanduk kerbau, aroma kayu tua, cendera mata buatan tangan, dan pemandangan sawah yang membuat perjalanan ke Toraja terasa utuh.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share